
Anda yang sudah membaca artikel preview kami sebelumnya sepertinya sudah memiliki gambaran yang lebih jelas soal kira-kira apa yang hendak ditawarkan oleh Call of Duty: Modern Warfare Reboot. Kesan pertama yang ia hadirkan memang mengesankan game yang lebih gelap dan berat, yang mengacu pada dua hal: kualitas visualisasi memesona yang ia usung dan tema cerita yang ia angkat untuk menawarkan cita rasa perang yang disebut sebagai Infinity Ward, lebih relevan. Terlepas dari beberapa perubahan yang pantas disambut dengan baik, tidak kesemua usaha untuk tampil berbeda ini bisa dibilang berhasil.
Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Call of Duty: Modern Warfare Reboot ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah seri yang tak ubahnya pisau “realita” yang tumpul? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Plot

Seri Modern Warfare untuk tahun 2019 ini memang sebuah seri reboot. Ini berarti, bahwa terlepas dari beberapa nama karakter yang kembali, tidak satupun dari mereka yang berbagi masa lalu dan keterkaitan sama sekali dengan trilogi Modern Warfare yang sempat dilepas Infinity Ward di masa lalu. Ini adalah sebuah kisah baru dengan karakter baru yang sekedar “meminjam” nama dan mungkin, kemiripan karakter, namun diposisikan sebagai entitas original di garis cerita yang berbeda.
Berusaha menawarkan kisah perang lebih relevan, Modern Warfare Reboot membawa Anda pada sebuah ancaman baru super menyeramkan – sebuah senjata kimia berbentuk gas yang berhasil dicuri dari militer Russia oleh sebuah organisasi teroris bernama Al-Qatala. Dipimpin oleh Omar “The Wolf” Sulaman, organisasi ini tentu saja langsung jadi buruan utama tentara khusus Amerika Serikat dan Inggris, terutama karena potensi serangan di kota penting mereka. Untuk bisa melacak dan memburu Omar, sekaligus mengamankan senjata gas tersebut, mereka harus bekerja sama dengan Farah – pemimpin pemberontak dari negara yang sama dengan asal Omar – Urzikstan.

Proses perburuan ini ternyata tidak hanya melibatkan Farah dan Urzikstan saja. Pelan tapi pasti, tentara khusus yang kini berada di bawah pimpinan Price, mau tidak mau juga harus bersinggungan dengan Russia. Russia yang menguasai Urzikstan lewat proses invasi yang dipimpin oleh Barkov – seorang perwira militer yang tak punya belas kasihan, menjadi musuh utama pasukan pemberontak Urzikstan. Bertukar utang budi antara Farah dan pasukan khusus Price menjadi pondasi dalam kerjasama untuk berburu Omar yang setiap detik eksistensinya, semakin berbahaya. Namun seperti yang bisa diprediksi, Omar bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab di sini.
Sumber : https://jagatplay.com/2019/11/playstation3/review-call-of-duty-modern-warfare-reboot-pisau-tumpul-realita/
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email
No Comments